Menumpang di Medan untuk Mengejar USU

Bantors Bantors
Menumpang di Medan untuk Mengejar USU
Dok Pribadi
Sebagian teman-teman satu angkatan 1992 di S1 Ilmu Administrasi Negara FISIP USU

Tahun 1992, setelah ujian Ebtanas SMA selesai, aku dan Hotlion Sihombing kembali membicarakan soal yang sudah lama mengganggu pikiran: bagaimana caranya mengikuti bimbingan tes di Medan dengan uang yang terbatas.

Besoknya kami naik bus Sampri dari Parongil. Sopirnya marga Simbolon yang sudah kukenal karena dulu aku kerap ditugasi Bapak mengirim uang kepada abangku, Dalarman, yang kuliah di Medan. Perjalanan ke kota terasa seperti perpindahan dunia. Dari lingkungan yang semua orang saling mengenal menuju kota yang tidak peduli siapa kita.

Tujuan kami adalah kamar kos Bang Usman Manurung di Jalan Jamin Ginting 397, Sumber Padangbulan.

Kamar itu kecil. Tempat tidur hanya satu dan tentu menjadi hak penghuni resmi, Bang Usman. Aku dan Hotlion menempatkan diri sebagai orang yang menumpang. Kami tidur di lantai menggunakan tikar.

Kami punya nama bercanda untuk status itu: “PGT: Penghuni Gelap Tetap.

* * *

Uang harus dihitung dengan ketat. Kami makan di warung sederhana dengan biaya sekitar Rp32.000 per bulan untuk tiga kali makan sehari. Daging hanya sekali seminggu. Bimbingan tes ternama seperti Medica atau Bima sudah kami kenal namanya, tetapi biayanya terlalu mahal.

Atas saran Bang Usman, kami mencari bimbingan yang lebih murah. Hotlion mengikuti bimbingan di dekat Medan Plaza. Aku memilih tempat yang cukup dekat agar bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Pertimbangannya sederhana: kalau harus membayar ongkos setiap hari, biaya akan bertambah.

Di Medan aku belajar arti jarak dalam ukuran uang.

Satu perjalanan angkot yang bagi orang lain kecil dapat berarti satu pengeluaran yang harus dihindari. Karena itu berjalan kaki bukan pilihan romantis. Itu strategi ekonomi.

* * *

Kami datang dari SMA Negeri Parongil dan harus berhadapan dengan peserta dari sekolah-sekolah kota yang mempunyai akses belajar lebih baik. Mudah merasa kurang siap. Tetapi Brawira sudah mengajarkan bahwa keterbatasan tidak harus berarti menyerah sebelum bertanding.

Aku belajar.

Mengerjakan soal.

Mencoba memahami pola ujian.

Berjalan ke tempat bimbingan.

Pulang ke kamar kos yang bukan kamar kami.

Kemudian tidur di tikar.

Hari-hari seperti itu sekarang tampak sederhana, tetapi ketika dijalani, semuanya terasa menentukan masa depan.

* * *

Hasil UMPTN akhirnya keluar.

Aku lulus di Universitas Sumatera Utara.

Hotlion juga lulus di Fisika, FMIPA USU.

Aku diterima pada Program Studi Ilmu Administrasi Negara FISIP USU, pilihan yang saat itu bukan cita-cita utama. Latar belakangku dari jurusan Fisika membuat pikiranku sebelumnya lebih dekat kepada bidang teknik. Aku bahkan sempat membayangkan akan mencoba ujian lagi pada kesempatan berikutnya.

Namun untuk sementara, satu hal sudah pasti:

aku menjadi mahasiswa USU.

Kabar itu terasa seperti kemenangan kecil bukan hanya bagi diriku sendiri. Ada Bapak dan Mamak yang selama ini menekankan pentingnya pendidikan. Ada saudara. Ada teman-teman di Parongil. Ada Bang Usman yang membiarkan dua anak kampung memenuhi lantai kamarnya.

* * *

Kehidupan mahasiswa segera mengajarkanku bahwa lulus ujian masuk hanyalah pintu.

Medan menuntut penyesuaian. Kampus jauh lebih besar daripada sekolah di Parongil. Mahasiswa datang dari berbagai daerah dan latar belakang. Cara bicara, cara berpakaian, kebiasaan, dan kepercayaan diri mereka berbeda-beda.

Di kelas aku mulai berkenalan dengan ilmu administrasi, pemerintahan, kebijakan, organisasi, dan berbagai konsep yang ketika itu belum kurasakan kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Aku belum tahu bahwa bidang yang masuk sebagai pilihan terakhir itu kelak justru akan kembali kupilih pada jenjang doktoral.

Saat itu umurku belum sembilan belas tahun.

Penulis
: Bantors
Editor
: Redaksi

Tag: