Brawira, Marsiadapari, dan Mimpi Anak Kampung

Bantors Bantors
Brawira, Marsiadapari, dan Mimpi Anak Kampung
Dok Facebook
Anggota Brawira Group, minus Roland Hasibuan. Foto diolah menggunakan ChatGPT

Tahun 1988, ketika kami masih kelas 3 SMP Negeri Parongil, beberapa teman merasa belajar sendirian tidak cukup. Buku terbatas. Bimbingan belajar seperti yang tersedia di kota besar tentu jauh dari kehidupan kami. Kalau ingin maju, kami harus mencari cara sendiri.

Maka terbentuklah kelompok diskusi yang kemudian kami sebut “Brawira Grup”.

Nama itu diusulkan Ulbrits Siahaan. Menurutnya, kata “wira” membawa makna keberanian dan kepahlawanan. Ia berharap anak Parongil dapat menjadi orang yang berani, sportif, dan tidak pengecut. Usul itu diterima. Barangkali juga karena tidak ada nama lain yang lebih baik ketika itu.

Anggotanya antara lain Ulbrits Siahaan, Hotlion Sihombing, Marudut Sirait, aku, Nursinta Simaibang, Roland Hasibuan, Arthur Sitorus, Eduard Siburian yang kami panggil Si Ompung, Patar Tambunan, Ellys Siagian, dan Berliana Napitupulu.

Posko kami bukan ruang belajar resmi.

Loteng rumah Marudut Sirait menjadi tempat berkumpul.

* * *

Di loteng itu kami belajar dari buku-buku kumpulan soal yang diwariskan abang Marudut. Tidak ada guru yang setiap malam mengawasi. Kami berdiskusi, mencoba soal, saling menjelaskan, dan sesekali tentu saja pembicaraan berbelok jauh dari pelajaran.

Ulbirts mempunyai akses kepada Majalah Tempo karena orang tuanya berlangganan. Bagi anak-anak kampung, majalah seperti itu merupakan jendela besar. Dari sana kami mendengar nama tokoh nasional, persoalan politik, dan peristiwa yang terjadi jauh dari Parongil. Reformasi masih belum terlihat di cakrawala, tetapi kami sudah membicarakan Soeharto, kekuasaan Orde Baru, dan berbagai hal yang sebenarnya terlalu besar untuk diselesaikan oleh anak SMP di sebuah loteng.

Namun justru itulah gunanya ruang seperti Brawira.

Kami belajar bahwa dunia lebih luas daripada kampung.

Kami boleh mempunyai pendapat.

Kami boleh bermimpi.

Dan anak Parongil tidak harus merasa kecil hanya karena tinggal jauh dari kota besar.

* * *

Matematika menjadi salah satu perhatian kami. Atas izin kepala sekolah, Pak D.W. Sitorus, kami sempat menggunakan ruang kelas pada malam hari dan belajar bersama Pak O Sirait. Tidak ada proyektor. Tidak ada aplikasi. Papan tulis dan penjelasan seorang guru sudah cukup untuk membuat malam terasa berharga.

Kesukaan pada Matematika itu tinggal lama. Bertahun-tahun kemudian, ketika menjadi guru honor dan harus mengajar Matematika meski kuliahku di ilmu sosial, pengalaman masa sekolah sangat membantu.

Persahabatan Brawira tidak berhenti di meja belajar. Kami main sepak bola, menjadi petugas upacara, bermain gitar, dan melakukan pekerjaan yang sangat akrab bagi anak Parongil: marsiadapari.

Marsiadapari atau marsirumpa adalah kebiasaan gotong royong mengerjakan ladang secara bergiliran. Hari ini kami bekerja di ladang Ulbrits. Besok di ladang Marudut. Hari berikutnya mungkin di ladang Hotlion atau teman lain. Tuan rumah menyediakan kopi atau minuman. Kami menyumbangkan tenaga.

Jenis pekerjaan bermacam-macam: membersihkan rumput di ladang kopi, memetik kopi, menanam padi, kacang, atau jagung. Kegiatan itu kami lakukan sepulang sekolah dan saat libur.

Ada satu ladang yang sering lebih menyenangkan: ladang Hotlion. Bukan karena pekerjaan lebih ringan. Orang tua Hotlion kadang datang membawa kejutan sore berupa mi instan atau gorengan. Bagi remaja yang sejak siang bekerja di ladang, makanan seperti itu terasa seperti hadiah besar.

* * *

Salah satu adegan yang paling lama bertahan justru terjadi ketika hujan.

Kami tidak segera berteduh. Cangkul berubah menjadi gitar. Kami berdiri di tengah ladang, basah kuyup, bernyanyi seolah berada di panggung. Lagu gereja, Batak, pop, dangdut, Iwan Fals, Ebiet G. Ade, semuanya bercampur tanpa memikirkan genre.

Tidak ada kamera telepon genggam untuk merekamnya. Tidak ada video yang dapat diunggah. Ingatan menjadi satu-satunya tempat adegan itu disimpan.

Mungkin karena tidak direkam, justru rasanya semakin hidup ketika dikenang.

Kami bekerja.

Kami bernyanyi.

Kami tertawa.

Kemudian pulang dengan pakaian kotor dan tubuh lelah.

* * *

Brawira sebagai kelompok hanya berlangsung pada masa SMP, tetapi kebiasaan belajar bersama tetap terbawa sampai SMA. Sebagian besar dari kami melanjutkan ke SMA Negeri Parongil pada 1989. Persahabatan berkembang, teman-teman baru datang, tetapi mimpi untuk kuliah mulai semakin nyata.

Kami tidak memiliki peta rinci tentang masa depan. Yang kami tahu, pendidikan adalah salah satu jalan untuk keluar dari keterbatasan. Kata “keluar” bukan berarti menolak kampung. Justru kami ingin membuktikan bahwa berasal dari kampung tidak menentukan seberapa jauh seseorang boleh bermimpi.

Pada masa SMA, pertanyaan tentang perguruan tinggi mulai terasa lebih dekat. Ada teman yang ingin jurusan tertentu. Ada yang memikirkan kota lain. Aku sendiri dari jurusan Fisika dan sempat membayangkan menjadi insinyur. Pilihan itu kelak tidak terjadi.

Tetapi sebelum mengetahui ke mana hidup akan membawaku, ada satu langkah yang harus dilewati lebih dahulu: pergi ke Medan dan mencoba menembus perguruan tinggi negeri.

Untuk anak Parongil tahun 1992, Medan bukan sekadar kota tujuan.

Ia adalah ujian pertama apakah mimpi yang dibicarakan di loteng Marudut dapat bertahan ketika berhadapan dengan kenyataan.

Penulis
: Bantors
Editor
: Redaksi

Tag: