Aku masih dapat mengingat rasa lapar ketika pulang sekolah di Parongil. Seragam sudah terasa lengket oleh keringat dan pikiran hanya tertuju pada makanan. Aku masuk rumah, mengangkat tudung saji, tetapi meja tidak menyediakan apa yang kuharapkan. Yang kutemukan justru secarik pesan.
“Indahan di juma na dao. Boan taru-taru.”
Nasi ada di ladang yang jauh. Bawa kompos.
Pesan semacam itu tidak terdengar dramatis bagi anak kampung pada masa itu. Ia hanya berarti satu hal: kalau ingin makan, aku harus pergi ke ladang. Aku menaruh tas, mencari apa yang harus dibawa, lalu berjalan menyusul Bapak atau Mamak. Lapar membuat jarak terasa lebih panjang, tetapi kehidupan di Parongil memang tidak memisahkan sekolah dari ladang dengan tembok yang tegas. Anak bisa belajar di kelas pada pagi hari dan beberapa jam kemudian sudah memegang alat pertanian.
Parongil adalah tempat aku dilahirkan pada November 1973. Rumah kelahiranku berada di Jalan Gereja Bawah, di sebuah titik yang bertahun-tahun kemudian dikenal orang sebagai lokasi Warnet Dion. Pada masa kecilku, tentu tidak ada warnet. Yang ada adalah rumah, jalan kampung, sekolah, gereja, pasar, kebun, dan ladang yang membentuk batas dunia yang kukenal.
Aku anak keenam dari delapan bersaudara dan anak laki-laki ketiga. Kakak-kakakku adalah Alida Wastina, Elly Marwati, Armin, Binhot Beriman, dan Dalarman. Sesudah aku lahir menyusul Helen dan Leni. Dengan delapan anak, rumah hampir tidak pernah benar-benar sepi. Ada suara orang belajar, bertengkar, tertawa, menyuruh, dipanggil, atau memanggil dari halaman.
Bapak bernama Washington Sihombing. Ia guru sekolah dasar. Mamak, Tio Siregar, mengurus rumah, ladang, dan berbagai pekerjaan yang membuat keluarga kami dapat berjalan. Kami bukan keluarga berada, tetapi pendidikan selalu diperlakukan sebagai sesuatu yang penting. Saat itu aku belum memahami berapa banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk menyekolahkan delapan anak. Sebagai anak, yang kutahu sederhana: pagi harus berangkat sekolah, pulang kadang membantu di ladang, malam belajar kalau tidak terlalu lelah.
Nama “Bantors” sendiri sering menimbulkan pertanyaan. Bukan nama yang umum. Bapak pernah menjelaskan bahwa nama itu diambil dari marga cabang kami, Lumbantoruan: LumBAN TORuan Sihombing. Dari potongan itulah lahir “Bantors”. Sebuah nama yang sejak kecil melekat tanpa kupikirkan, tetapi kemudian menjadi pengingat tentang asal-usul keluarga.
* * *
Parongil pada masa kecilku kaya dengan kopi, durian, pisang, dan berbagai tanaman kebun. Pasar mingguan menjadi ruang pertemuan banyak orang. Hari Rabu membawa suasana berbeda. Pedagang datang, orang dari kampung-kampung sekitar turun berbelanja, dan rumah-rumah terasa lebih sibuk.
Kami tumbuh dengan kedekatan kepada ladang. Hampir semua keluarga mempunyai atau menggarap lahan. Guru, pegawai negeri, pedagang, dan warga lain tetap bercocok tanam untuk menambah penghasilan. Karena itu menjadi anak guru tidak membuatku terbebas dari pekerjaan kebun. Bapak mempunyai pekerjaan di sekolah, tetapi keluarga tetap berhubungan sangat dekat dengan tanah.
Ada masa ketika hiburan sederhana terasa seperti peristiwa besar. Televisi belum menjadi benda yang ada di setiap rumah. Kalau ingin menonton, kami mendatangi rumah orang yang memilikinya. Aku masih mengingat kegembiraan menyaksikan serial The Incredible Hulk di rumah dokter Patia Tambun. Anak-anak duduk memperhatikan layar dengan keseriusan yang sekarang mungkin sulit dibayangkan. Satu televisi dapat menjadi pusat perhatian beberapa keluarga.
Dari sana imajinasi anak kampung berjalan jauh. Kami belum mengenal internet. Belum ada telepon genggam. Dunia luar datang melalui guru, radio, koran atau majalah yang sesekali dibaca, orang yang baru pulang dari kota, dan televisi yang ditonton bersama-sama.
Sekolah dasarku adalah SD Negeri 030388 Parongil. Aku bersekolah di sana dari 1980 sampai 1986. Menjadi anak guru mempunyai kelebihan dan beban kecilnya sendiri. Orang tahu siapa Bapakku. Kalau berbuat sesuatu yang dianggap tidak baik, selalu ada kemungkinan berita sampai ke rumah lebih cepat daripada aku sendiri.
Namun rumah kami bukan tempat yang dipenuhi ceramah panjang. Pendidikan lebih banyak hadir melalui kebiasaan. Buku harus dibaca. Sekolah jangan dianggap enteng. Pekerjaan harus dilakukan. Makanan dinikmati bersama kalau ada kesempatan.
Aku masih menyimpan satu gambaran tentang Bapak yang menyukai kebersamaan saat makan. Pada hari Rabu, ketika pasar ramai, ia kadang membeli mi kuah dari Warung Asmara atau pecal dari Warung M Napitupulu. Pada hari Minggu ada kalanya ia membeli daging untuk dimasak di rumah. Ia ingin kami makan bersama. Dalam satu kenangan ia mengatakan, “Aku ingin menikmatinya sama kalian.”
Kalimat itu baru terasa lebih dalam setelah aku menjadi ayah.
* * *
Mamak mempunyai irama kerja yang berbeda. Ia mengurus banyak hal yang tidak selalu terlihat oleh anak-anak. Rumah, makanan, ladang, kebutuhan sekolah, hubungan keluarga, dan keputusan-keputusan kecil yang membuat kami dapat bertahan. Aku lebih banyak melihat hasil kerjanya daripada memahami bagaimana semuanya diatur.
Sebagai anak, aku kadang merasa rumah selalu menyediakan sesuatu karena memang begitulah seharusnya. Baru ketika dewasa dan mempunyai keluarga sendiri aku mengerti bahwa tidak ada makanan, uang sekolah, pakaian, atau kebutuhan rumah yang hadir dengan sendirinya. Ada orang yang memikirkan dan mengusahakannya.
Parongil mengajarkanku hal-hal itu tanpa menyebutnya sebagai pelajaran. Kerja, kebersamaan, keterbatasan, dan pendidikan masuk melalui kehidupan sehari-hari. Kami tidak membicarakan konsep ketahanan keluarga. Kami menjalaninya.
Kampung juga memberiku jaringan manusia pertama. Saudara, tetangga, teman sekolah, guru, orang gereja, pedagang pasar, dan orang-orang yang kami kenal dari ladang. Waktu itu aku tidak membayangkan bahwa kelak pekerjaan sebagai wartawan akan membuatku berjumpa dengan begitu banyak manusia di kota dan daerah lain. Kemampuan berbicara dengan orang yang berbeda mungkin sudah mulai dibentuk dari lingkungan kecil ini.
Aku tidak ingin menjadikan masa kecil di Parongil lebih indah daripada kenyataannya. Ada keterbatasan. Ada keinginan yang tidak dapat dipenuhi. Ada pekerjaan yang harus dilakukan ketika anak-anak lain mungkin bermain. Namun ada pula sesuatu yang baru terasa berharga setelah jauh dari sana: kami tumbuh dekat dengan orang, tanah, dan pekerjaan nyata.
Pada masa itu aku belum mempunyai gambaran jelas tentang pekerjaan apa yang akan kujalani. Menjadi wartawan bahkan belum masuk dalam bayangan. Menjadi dosen lebih jauh lagi. Aku hanya anak sekolah yang sesekali pulang dalam keadaan lapar, menemukan pesan di bawah tudung saji, lalu berjalan ke ladang.
Jejak panjang sering kali memang dimulai dari hal yang sangat biasa.
Dari rumah kecil di Jalan Gereja Bawah itulah segala sesuatu bermula.