Dua Akar Kehidupanku

Bantors Bantors
Dua Akar Kehidupanku
Dok Keluarga
Bapak dan Mamak waktu muda. (Repro dibantu ChatGPT)

Bapak lahir pada 1933 di Sitedak, Tipang, kawasan yang kini termasuk Kecamatan Baktiraja, Kabupaten Humbang Hasundutan. Tidak jauh dari sana sekarang berdiri Monumen Borsak Sirumonggur. Ia anak Simon Sihombing dan seorang ibu boru Silaban yang meninggal ketika Bapak masih bayi. Kehilangan ibu sejak sangat kecil membuat masa hidupnya tidak selalu mudah.

Ia kemudian menempuh pendidikan guru di Balige pada dekade 1950-an. Bapak adalah lulusan KGB (Kursus Guru B). Pada masa awal kemerdekaan, KGB merupakan program pendidikan guru darurat yang bertujuan membantu guru Sekolah Rakyat (SR) agar setara dengan lulusan Sekolah Guru Bawah (SGB). Pendidikan itulah yang membuka jalannya menjadi guru dan membawanya jauh dari Tipang menuju Parongil.

Aku sering membayangkan perpindahan itu. Seorang pemuda dari tepian Danau Toba berangkat untuk mengajar di daerah yang tidak dekat dengan kampung halamannya. Jalan belum seperti sekarang. Informasi dan transportasi terbatas. Namun pengabdian sebagai guru justru membawanya ke tempat yang kemudian menjadi rumah utama hidupnya.

Di Parongil ia bertemu Tio Siregar, perempuan yang kemudian menjadi Mamak kami.

* * *

Mamak mempunyai perjalanan keluarga yang berbeda. Akar keluarga dari pihaknya berkaitan dengan Pearung, kemudian Parbakalan, lalu Sabulan. Ompung dari pihak Mamak, Siregar, dikenal sebagai pengumpul dan pedagang kopi. Keluarga mereka pernah membuka lahan di Parbakalan,dekat Parbuluan, Dairi, sebelum akhirnya menetap di Sabulan, tidak jauh dari Parongil.

Mamak sendiri diperkirakan lahir pada 1938 di Parbakalan. Ia tidak menyelesaikan pendidikan tinggi. Dalam cerita keluarga, jalur hidupnya lebih dekat dengan pekerjaan rumah, ladang, perdagangan kecil, dan kemampuan mengelola kebutuhan keluarga. Rambutnya hitam, lebat, dan sangat panjang. Ada kebiasaan perawatan rambut menggunakan kelapa yang dibusukkan, sesuatu yang diingat keluarga sebagai bagian dari cara hidup generasi itu.

Bapak dan Mamak bertemu di Parongil. Aku tidak mempunyai cukup bahan untuk menulis bagaimana mereka berpacaran, siapa yang terlebih dahulu menyatakan perasaan, atau bagaimana rincian pesta pernikahan mereka. Aku memilih tidak mengisi ruang kosong itu dengan cerita yang tampak indah tetapi tidak benar-benar kuketahui.

Yang kuketahui adalah mereka kemudian membangun keluarga dan melahirkan delapan anak.

* * *

Bapak dikenal sebagai guru yang disiplin. Ia pernah menjadi kepala sekolah di Bongkaras, sekitar enam kilometer dari Parongil. Pada masa itu sebagian jalan masih berupa onderlag. Perjalanan dapat memakan waktu sekitar tiga puluh sampai empat puluh lima menit, tergantung keadaan jalan dan cuaca. Aku pernah menggunakan Honda CB 100 untuk mendukung mobilitasnya.

Ada masa aku tidur menemaninya di Bongkaras ketika tugas membuatnya harus tinggal terpisah sementara dari Mamak di Parongil. Malam-malam seperti itu menjadi kesempatan Bapak bercerita tentang Tipang, keluarga besar, dan masa kecilnya. Aku mendengarkan tanpa menyadari bahwa bertahun-tahun kemudian cerita tersebut akan menjadi salah satu jembatan terpenting untuk mengenali akar keluarga.

Salah satu nasihat Bapak masih kuingat dalam bahasa yang digunakannya sendiri.

“Ndang timbo singkolangku, omakmu pe holan tamat SMP do. Alani ingkon dengan-denggan hamu singkola, unang pandang enteng jolma tu hamu. Na tolaphu, pasingkolahonku do hamu.”

Sekolahku tidak tinggi, ibumu pun hanya tamat SMP. Karena itu kalian harus sekolah dengan baik, supaya jangan dipandang rendah orang. Semampuku, kalian akan kusekolahkan.

Bertahun-tahun setelah ia meninggal, aku membaca kembali kalimat itu dengan perasaan berbeda. Bapak tidak sedang berbicara dari posisi orang yang mempunyai banyak sumber daya. Ia justru mengucapkan janji besar dari keterbatasan.

-Delapan anak.

-Gaji guru.

-Ladang.

-Penyakit yang telah lama mengganggu tubuhnya.

Namun pendidikan tidak pernah ia tempatkan sebagai sesuatu yang boleh dinegosiasikan dengan mudah.

* * *

Bapak hidup lama dengan penyakit paru. Pada masa itu akses pelayanan kesehatan tentu tidak seperti sekarang. Bapak dan Mamak juga belajar berbagai perawatan dasar secara autodidak, sesuatu yang pada zamannya cukup biasa di banyak keluarga yang tinggal jauh dari fasilitas medis lengkap.

Aku lebih mengingat Bapak sebagai orang yang tidak banyak mengeluh. Tubuhnya tidak selalu kuat, tetapi pekerjaan sebagai guru terus dijalani. Di rumah ia tetap menjadi ayah dengan kebiasaannya sendiri: berbagi makanan, mengajari anak, dan berharap kami sekolah dengan baik.

Salah satu makanan yang selalu melekat pada cerita tentang asal-usul Bapak adalah indahan na niura. Nasi yang hampir basi dicampur dengan kunyit. Kata Bapak, kunyit membuat perutnya tidak sakit setelah konsumsi indahan na niura. Setiap keluarga mempunyai makanan yang terasa lebih dari sekadar makanan. Ia membawa kampung, masa kecil, dan orang-orang tertentu kembali ke ingatan. Bagi kami, sebagian ingatan tentang Bapak bekerja seperti itu.

* * *

Mamak menunjukkan bentuk ketahanan yang lain.

Ia menyimpan emas sebagai salah satu cara menjaga keamanan keuangan keluarga. Emas bukan untuk dipamerkan. Dalam keluarga dengan delapan anak, benda kecil itu dapat berubah fungsi sewaktu-waktu menjadi biaya sekolah, kebutuhan rumah, atau penolong ketika uang tunai tidak tersedia. Aku baru memahami logika itu setelah dewasa: orang yang tidak mempunyai akses ke banyak instrumen keuangan menciptakan caranya sendiri untuk menyimpan masa depan.

Mamak juga mengolah ladang dan mengurus kebutuhan makan. Aku mengenang mie gomak dan berbagai makanan rumah sebagai bagian dari dirinya. Keterampilan memasak bukan sesuatu yang dipisahkan dari ekonomi keluarga. Apa yang ada di rumah, pasar, atau kebun diolah agar cukup untuk banyak orang.

Pernah ada keinginan dalam dirinya untuk menjadi perawat. Kehidupan membawanya ke arah lain. Ia menjadi ibu bagi delapan anak. Meski tidak memakai seragam perawat, sebagian hidupnya tetap berupa merawat orang lain.

* * *

Bapak dan Mamak berbeda, tetapi keduanya menjadi dua akar yang membentukku.

Dari Bapak aku menerima dorongan pendidikan dan kedisiplinan.

Dari Mamak aku melihat ketekunan mengelola kehidupan sehari-hari, kerja yang tidak selalu mendapat panggung, dan kemampuan mengubah sedikit sumber daya menjadi cukup untuk banyak kebutuhan.

Mereka tidak pernah melihat semua yang kemudian terjadi dalam hidupku. Bapak dan Mamak meninggal ketika aku masih sangat muda, bahkan sebelum aku menyelesaikan S1. Mereka tidak melihatku menjadi wartawan, redaktur, dosen, peneliti, atau mahasiswa doktoral.

Namun semakin panjang hidupku, semakin terasa bahwa sebagian keputusan yang kuambil sebenarnya masih bergerak di dalam nilai yang mereka tanamkan.

Pendidikan harus diperjuangkan.

Kerja jangan direndahkan.

Jangan memandang enteng orang lain.

Dan kalau ada sesuatu yang bisa dibagi, nikmatilah bersama orang yang kita kasihi selagi mereka masih ada.

Penulis
: Bantors
Editor
: Redaksi

Tag: