Mengajar untuk Bertahan, Mengabdi di Adiankoting

Bantors Bantors
Mengajar untuk Bertahan, Mengabdi di Adiankoting
Gemini
Ilustrasi SP3

Setelah menyelesaikan kuliah di FISIP USU pada 1996, aku belum langsung menemukan pekerjaan yang benar-benar menetap. Dua tahun setelah lulus bukan masa dengan arah karier yang sepenuhnya jelas. Aku masih berada dekat lingkungan kampus dan sempat membantu dosenku Drs Tunggul Sihombing MA dalam beberapa kegiatan mengajar junior-juniorku di FISIP USU.

Aku belum menyebut diri dosen. Aku hanya seorang sarjana muda yang masih mencari jalan sambil melakukan apa yang bisa dikerjakan. Namun ada pengalaman baru yang muncul ketika berdiri di hadapan mahasiswa.

Memahami suatu materi sendiri ternyata berbeda dengan menjelaskannya kepada orang lain. Ketika orang lain tidak mengerti, kita dipaksa memeriksa kembali apakah sebenarnya kita sendiri sudah cukup memahami. Saat itu pengalaman mengajar tersebut belum terasa sebagai sesuatu yang akan bertahan lama dalam hidupku. Aku belum tahu bahwa bertahun-tahun kemudian ruang kuliah justru menjadi salah satu rumah profesionalku.

* * *

Pada 1998 datang kesempatan melalui Program Sarjana Penggerak Pembangunan Pedesaan (SP3). Aku mengikuti program itu dan ditempatkan di Tapanuli Utara. Penugasan berlangsung sampai 2000.

Sebagai orang yang lahir dan besar di Parongil, kehidupan pedesaan tentu bukan dunia asing bagiku. Aku tahu bagaimana jalan kampung, ladang, sekolah, gereja, keluarga, dan hubungan antartetangga membentuk kehidupan masyarakat. Tetapi datang sebagai seorang sarjana yang membawa tugas pembangunan terasa berbeda dengan hidup sebagai anak kampung. Sekarang aku datang dengan pertanyaan: apa yang bisa kukerjakan?

Di Adiankoting, kebutuhan yang paling dekat dengan kemampuanku ternyata datang dari sekolah. SMA Negeri 1 Adiankoting masih relatif baru berdiri. Ketersediaan guru tetap belum sepenuhnya mencukupi. Aku kemudian ikut mengajar sebagai guru honor. Selain di SMA Negeri 1 Adiankoting, aku juga mengajar di SMP Negeri 2 Adiankoting.

Begitulah, tanpa pernah kurencanakan ketika kuliah, anak seorang guru akhirnya berdiri di depan kelas. Bapak sudah tidak ada. Aku tidak tahu bagaimana reaksinya kalau melihatku ketika itu. Mungkin ia akan senang. Mungkin juga akan bertanya apakah aku sudah menyiapkan pelajaran dengan baik.

* * *

Aku mengajar sesuai kebutuhan sekolah. Salah satunya Matematika. Juga PPKN. Kalau dilihat dari ijazah, situasinya agak lucu. Aku sarjana Ilmu Administrasi Negara, tetapi harus mengajar Matematika.

Untunglah pelajaran itu tidak terlalu jauh dari hidupku. Sejak masa Brawira dan belajar malam bersama Pak O Sirait, Matematika termasuk mata pelajaran yang kusukai. Apa yang dahulu dipelajari sebagai murid kini harus kujelaskan kepada orang lain. Dan di situlah kesulitannya. Bisa mengerjakan soal sendiri belum tentu berarti mampu membuat siswa memahaminya.

Di depan kelas aku mulai melihat murid dengan cara berbeda. Ada yang cepat menangkap, ada yang membutuhkan penjelasan berulang, ada yang sebenarnya memahami tetapi takut menjawab. Ada pula yang tidak mengerti dan memilih diam, atau lebih tertarik kepada sesuatu di luar jendela dibanding apa yang ditulis guru di papan. Guru tidak dapat memperlakukan semua siswa dengan cara yang sama lalu berharap hasilnya sama.

Kesadaran itu datang bukan dari buku pedagogi. Datang dari kelas.

Dalam Matematika, aku cukup sering menekankan latihan. Contoh yang dibaca tidak akan banyak berguna jika tangan tidak pernah mengerjakan. Coba. Salah. Perbaiki. Kerjakan lagi.

Kadang pembelajaran tidak berhenti setelah jam sekolah selesai. Ada kesempatan ketika kami membuat tambahan belajar secara gratis di tempatku tinggal, Lobupining. Aku cukup memahami keterbatasan sebagian keluarga. Aku sendiri pernah berjalan kaki di Medan hanya untuk menghemat ongkos bimbingan tes. Karena itu aku tidak merasa semua kegiatan belajar harus selalu berakhir pada transaksi. Kalau bisa membantu, lakukan.

* * *

Masa Adiankoting mengembalikanku kepada irama yang pernah kukenal di Parongil: sekolah, masyarakat, jalan yang tidak selalu mudah, guru yang harus menutup kekurangan tenaga, dan siswa dengan berbagai latar belakang. Bedanya, kali ini aku berada di sisi depan kelas.

Bukan lagi anak yang duduk mendengarkan guru.

Ada satu perubahan kecil yang baru kusadari jauh kemudian. Menjadi guru ternyata melatih kemampuan yang akan sangat berguna ketika aku memasuki profesi berikutnya: memperhatikan, mendengar, menjelaskan hal yang rumit dengan bahasa yang mudah dimengerti, berbicara dengan orang yang latar belakangnya berbeda, dan membaca situasi.

Aku belum mengetahui hubungan itu ketika berada di Adiankoting. Saat itu aku hanya berusaha mengajar sebaik yang kubisa.

Tahun 2000 masa tugas SP3 selesai. Aku kembali berada di sebuah persimpangan. Kalau perjalanan profesional mengikuti garis yang mudah ditebak, mungkin aku akan tetap bekerja di pemerintahan atau dunia pendidikan. Ijazahku Ilmu Administrasi Negara. Aku mempunyai pengalaman program pembangunan pedesaan dan mengajar.

Namun sebuah pengumuman lowongan membawa arah lain: Harian Sinar Indonesia Baru (SIB).

Aku bukan lulusan jurnalistik. Tidak pernah sekolah khusus menjadi wartawan. Tidak tahu bagaimana sebuah berita koran harus disusun menurut standar ruang redaksi.

Tetapi aku melamar.

Aku belum mengetahui bahwa keputusan itu akan membentuk hampir seluruh kehidupan profesionalku sesudahnya.

Penulis
: Bantors

Tag: