Mei-Agustus 1993: Tiga Bulan yang Mengubah Hidupku

Bantors Bantors
Mei-Agustus 1993: Tiga Bulan yang Mengubah Hidupku
Google
Parongil menggunakan Google Earth

Aku masih semester dua ketika kabar tentang Bapak datang.

Mei 1993.

Berita itu dibawa Bang Liston Siahaan. Dia datang ke kosku di Medan.

Bapak meninggal.

Ia memang sudah lama sakit. Sejak muda tubuhnya hidup dengan penyakit. Kami tahu kesehatannya tidak selalu baik, tetapi mengetahui seseorang sakit tidak pernah benar-benar membuat kita siap menerima kematiannya.

Aku pulang ke Parongil bukan lagi sebagai mahasiswa yang sedang libur, melainkan sebagai anak yang harus melihat rumah kehilangan salah satu pusatnya.

Bapak belum sempat melihatku menyelesaikan kuliah.

Belum sempat melihat apa pun yang kemudian kulakukan dengan pendidikan yang selalu ia perjuangkan.

* * *

Duka belum selesai ketika keadaan Mamak memburuk.

Ia kemudian dirawat di Rumah Sakit Adam Malik Medan selama kira-kira dua bulan. Pemeriksaan dilakukan, tetapi dalam ingatanku proses diagnosis belum benar-benar selesai ketika kondisinya terus menurun. Ada pemeriksaan yang belum tuntas. Karena itu aku memilih tidak menulis satu nama penyakit secara pasti.

Yang kuingat lebih jelas adalah tubuh Mamak yang semakin lemah.

Sekitar tiga hari terakhir ia berada dalam keadaan koma.

Bagi seorang mahasiswa yang baru kehilangan ayah, ruang rumah sakit terasa seperti tempat yang terlalu cepat memaksaku menjadi dewasa. Aku menunggu. Saudara-saudara datang dan pergi. Ada percakapan dengan dokter dan keluarga yang tidak semuanya mampu kuingat lagi secara utuh.

Lalu pada Agustus 1993, Mamak meninggal.

Hanya sekitar tiga bulan setelah Bapak.

* * *

Kami membawa jenazah Mamak dari Medan ke Parongil dengan ambulans. Di dalam kendaraan itu ada aku, dengan beberapa keluarga.

Perjalanan yang biasanya merupakan jalan pulang kampung berubah menjadi sesuatu yang sama sekali berbeda. Sirene ambulans terdengar ketika kami memasuki kawasan-kawasan yang semakin kukenal.

Pada satu bagian perjalanan kami berpapasan dengan anak-anak sekolah yang sedang pulang.

Pemandangan itu menempel kuat dalam ingatan.

Mereka berjalan seperti biasa. Membawa tas. Mungkin membicarakan pelajaran atau rencana bermain. Dunia mereka masih berjalan dalam ritme sekolah.

Di dalam ambulans, duniaku sedang berubah.

Beberapa tahun sebelumnya aku termasuk anak yang pulang sekolah dalam keadaan lapar dan mencari makanan di rumah. Sekarang aku pulang ke Parongil membawa Mamak yang tidak akan pernah lagi menunggu di rumah.

* * *

Setelah pemakaman, hidup tidak memberi waktu khusus untuk berduka sampai tuntas.

Kuliah tetap ada.

Biaya harus dipikirkan.

Keluarga besar harus menata kehidupan setelah kedua orang tua pergi.

Aku kembali ke Medan dan meneruskan studi di FISIP USU.

Keinginan untuk mencoba ujian masuk lagi ke jurusan lain berhenti. Bukan karena tiba-tiba aku menemukan cinta besar kepada Ilmu Administrasi Negara. Aku hanya merasa tidak mempunyai kemewahan untuk memulai semuanya dari awal.

Ada pendidikan yang sudah diperjuangkan Bapak dan Mamak.

Aku harus menyelesaikannya.

* * *

Belakangan aku sering tergoda melihat masa itu sebagai titik yang “membentuk” diriku. Barangkali memang ada pengaruhnya. Kehilangan membuat seseorang melihat hidup dengan cara berbeda. Tetapi aku tidak ingin mengatakan kematian Bapak dan Mamak “diperlukan” agar aku menjadi dewasa. Tidak ada anak yang membutuhkan kehilangan seperti itu untuk belajar bertanggung jawab.

Aku lebih memilih mengatakan: setelah kehilangan itu terjadi, kami harus belajar hidup dengannya.

Ada hari ketika iri melihat teman yang masih bisa pulang dan bertemu orang tuanya.

Ada momen ketika ingin bercerita kepada Bapak tetapi hanya dapat mengingat nasihatnya.

Ada keberhasilan kecil yang ingin disampaikan kepada Mamak tetapi tidak ada lagi orang yang sama untuk mendengarnya.

Waktu tidak menghapus semua itu. Ia hanya mengubah cara kehilangan tinggal di dalam diri.

* * *

Aku menyelesaikan S1 pada 1996.

Ketika menerima kenyataan bahwa fase mahasiswa pertamaku selesai, dua orang yang paling keras mendorong pendidikan justru sudah tiga tahun tidak ada.

Namun janji Bapak masih tertinggal:

“Na tolaphu, pasingkolahonku do hamu.”

Semampuku, kalian akan kusekolahkan.

Ia sudah melakukan bagiannya.

Sekarang bagian berikutnya harus kulakukan sendiri.

Aku belum tahu pekerjaan apa yang akan datang. Belum tahu bahwa jalan berikutnya membawaku kembali ke depan kelas, lalu ke ruang redaksi, dan bertahun-tahun kemudian kembali ke kampus.

Yang kutahu setelah 1996 sederhana:

aku harus bekerja.

Dan kalau ada kesempatan untuk berguna bagi orang lain melalui apa yang sudah kupelajari, aku ingin mencobanya.

Penulis
: Bantors
Editor
: Redaksi

Tag: